setiap saat, kita syukuri Anugerah Allah......

Untuk istriku tercinta Bernadet Theresia Pangemanan
Untuk anak-anakku tersayang Reinaldo Harjanto dan Clarissa Vania Harjanto
Untuk semuanya, para pembaca blog ini
Tuhan senantiasa memberkati, menyertai, melindungi kita sekalian.....
Amin.

@ Bersikap Jujur

on Kamis, 02 Juli 2009


Bersikap Jujur

02 Juli 2009


Suwito adalah seorang petani jagung miskin. Dalam periode waktu tertentu, Suwito menjual 5 kilogram jagung hasil dari kebunnya kepada Rahmat, seorang pedagang pasar.

Pada suatu hari, Rahmat iseng-iseng menimbang jagung yang dibelinya dari Suwito, untuk mengetahui apakah benar jagung seberat 5 kilogram itu, jumlahnya sesuai timbangan.

Ketika memperhatikan hasil timbangan, Rahmat cukup geram karena ternyata jagung yang dibelinya dari Suwito, kurang dari 5 kilogram. Ia sangat marah hingga akhirnya mengadukan Suwito ke polisi dengan tuduhan penipuan.

Kasus timbangan jagung yang kurang ini, berlanjut ke pengadilan. Suwito duduk sebagai terdakwa. Pada saat sesi tanya-jawab dengan terdakwa, bapak hakim mengajukan pertanyaan kepada Suwito :

”Saudara terdakwa, apakah saudara mempunyai timbangan di rumah saudara?”

Suwito menjawab pertanyaan pak hakim tersebut.

”Bapak hakim yang saya muliakan. Saya ini orang miskin dan tidak memiliki timbangan di rumah saya.”

Bapak hakim pun bertanya kembali kepada Suwito :

”Lalu, bagaimana saudara tahu kalau berat jagung tersebut 5 kilogram?”

Suwito pun menjawab :

”Sebelum saya menjual jagung hasil kebun saya kepada Pak Rahmat, saya sebelumnya membeli 5 kilogram bawang dari beliau.

Bawang seberat 5 kilogram inilah yang saya pakai sebagai takaran timbangan saya, untuk menjual jagung kepada Pak Rahmat, Bapak hakim yang saya hormati.”

Cerita diatas, menarik untuk disimak.

Terkadang, kita jauh lebih pintar untuk berusaha mencari tahu apakah seseorang itu bertindak jujur atau tidak kepada kita.

Dalam banyak kesempatan, terkadang pula, kita lebih menikmati kegiatan untuk menuntut seseorang agar berlaku jujur hingga kita mendapati diri seseorang itu telah bersikap tidak jujur, lalu, ketika kita mendapati adanya sikap tidak jujur itu, kita menuding, memaki-maki dan menerapkan dakwaan yang menyakiti hati seseorang tersebut.

Pada sisi yang berbeda, kita tidak menerapkan hal yang sama, untuk segera mengetahui dan menyadari kalau hidup kita sendiri tidak selalu berucap atau bertindak jujur kepada orang lain. Tanpa kita sadari, mungkin, diri kita sendiri, tidak mau mendisiplinkan diri untuk berlaku jujur atautidak mengungkapkan suatu kebohongan.

Kejujuran dan kebohongan... bagaikan dua sisi mata ulang. Berada dalam satu ruang hati, namun penerapannya dilakukan untuk maksud yang berlawanan.

Apabila kita telaah lebih jauh, maka keberadaan atau letak dari nilai-nilai kejujuran dan kebohongan, hanyalah sebatas benang tipis saja... Mudah kita lompati, apalagi suatu kalau keadaan mendesak atau menuntut kita, maupun suatu keadaan kita anggap memungkinkan atau tidak memungkinkan bagi diri kita untuk melakukan salah satu diantaranya.

Nurani mungkin tidak ingin berkata bohong, tapi keinginan daging dan kekuatan akal pikiran, membuat seseorang berbohong. Bahkan ada sejumlah orang yang melakukan tindakan tidak jujur atau mengungkapkan kebohongan, tanpa ada perasaan bersalah.

Sebenarnya, siapakah yang telah pribadi manusia itu bohongi? Pribadi manusia itu telah membohongi dirinya sendiri, karena telah membiarkan dirinya membenarkan sesuatu hal yang sesungguhnya adalah sebuah kesalahan.

Ya, ketika seseorang berbohong, sesungguhnya dia sadar kalau dirinya telah berbohong...!!!

Bersikap tidak jujur atau mengungkapkan suatu kebohongan, sesungguhnya memperpanjang suatu masalah.

Ingatlah, bila kamu berbohong, maka kamu akan berbohong lagi dan lagi, untuk menutupi kebohonganmu yang pertama. Itu semua akan berhenti, kalau kamu mau berkata hal yang sejujur-jujurnya dan sebenar-benarnya.

Oleh karena itu bisa dikatakan kalau keadaan seseorang yang awal mulanya hidup dengan satu kebohongan dan berlanjut dengan kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan yang selanjutnya, akan menjadi suatu kebiasaan kehidupan, yaitu bisa berbohong.

Apabila hal tersebut dibiarkan terus-menerus terjadi, proses kehidupan akan membentuk pribadi dan karakter seseorang yang biasa hidup dengan kebohongan atau tidak jujur, sebagai sebuah pribadi serta karakter yang menonjol, menutupi kepribadian dan karakter baik yang dimilikiseseorang tersebut.

Tidak ada suatu kerugian dalam kejujuran atau mengungkapkan kebenaran.

Masalah yang kita hadapi, akan cepat terselesaikan apabila kita menyatakan sesuatu sesuai dengan keadaanyang ada, tanpa mengurangi atau menambah nambahkannya...

Kita tidak perlu takut untuk di cap sebagai pribadi yang bersalah, karena orang banyak akan mendukung kita apabila kita mengungkapkan kebenaran itu, apa adanya.

Hidup dalam kejujuran adalah pilihan sikap.

Kehidupan orang-orang jujur adalah kehidupan orang-orang yang berkenan dan diberkati Tuhan.

Biasakanlah untuk hidup jujur dan tidak mengungkapkan kebohongan. Tekaplah mulut kita apabila pernyataan tidak jujur atau kata-kata penuh kebohongan, akan keluar dari mulut kita.

(Manna Sorgawi)



Mazmur 140:14

Sungguh, orang-orang benar akan memuji nama-Mu, orang-orang yang jujur akan diam di hadapan-Mu.



Aldo, Tuhan selalu mengasihimu.

Selamat belajar dengan tetap terus tekun ber doa.

Salam sayang dari: Papa, Mama & Riris di Surabaya

Tuhan selalu menyertai dan memberkati kita sekalian.

Amin

0 komentar:

Poskan Komentar